MEMBENTUK MENTAL TANGGUH DAN FISIK KUAT ANGGOTA MUDA BARA SABANA DI JUNGLE SURVIVAL

Unit Pandu Lingkungan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Jenderal Soedirman (UPL MPA Unsoed) menyelenggarakan Jungle Survival selama 3 hari 2 malam, dari 11 hingga 13 Februari 2026. Kegiatan ini berlangsung di rimba lereng selatan Gunung Slamet, tepatnya di tiga lokasi utama: Pejagalan, Kalimanggis, dan Papringan. Peserta adalah 15 anggota muda Bara Sabana, didampingi 6 instruktur dari Anggota Biasa. Jungle Survival ini merupakan rangkaian Masa Bimbingan Anggota Muda untuk mempraktikkan 5 Materi Dasar Mapala sekaligus meningkatkan solidaritas angkatan. 

Gambar 1. Peserta Jungle Survival AM BS

Kegiatan dimulai dari basecamp Kalipagu menuju camp pertama anggota muda di Pejagalan. Perjalanan menerapkan teknik berjalan dengan bimbingan instruktur untuk navigasi darat, termasuk ploting koordinat di titik-titik tertentu. Ploting koordinat dilakukan menggunakan kompas, peta, protaktor, serta orientasi medan guna menentukan posisi mereka di peta. Tujuannya agar peserta mampu membaca medan di depan serta mengukur jarak tempuh yang telah ditempuh.

Gambar 2. Navigasi Darat

Bentuk survival yang diterapkan anggota muda mencakup pembuatan bivak sebagai tempat berlindung dari panas, hujan, hewan buas, serta gangguan kecil yang mengganggu istirahat, perapian, serta pengolahan makanan. Sepanjang rute, mereka mengumpul makanan liar yang aman sesuai materi ruang sebelumnya, baik untuk konsumsi langsung, coffee break, atau lauk pauk nanti. 

Gambar 3. Jalur yang dilewati Rombongan

Perapian tidak hanya untuk memasak dan menghangatkan badan, tapi juga menjaga psikologis kelompok. Sumber daya alam di rimba Gunung Slamet menjadi objek penelitian di beberapa titik. Dalam materi dasar survival Mapala, ada ilmu konservasi berupa analisis vegetasi. Anggota muda melakukannya dengan metode petak tunggal, di mana setiap kelompok menghitung keragaman vegetasi pada plot berukuran 2×2 m², 5×5 m², 10×10 m², dan 20×20 m².

Pada hari terakhir Jungle Survival, trabas menjadi kunci utama. Trabas ini merupakan praktik SAR (Search and Rescue) dari titik A ke titik B, melewati punggungan dan lembahan dengan navigasi darat yang tepat. Setiap kelompok mempraktikkan SAR menggunakan metode close grid di bawah pengawasan instruktur, melewati berbagai vegetasi serta fauna endemik seperti kantung semar. Golok dan kompas menjadi alat utama, yang menarik adalah titik akhir trabas yakni justru saling bertukar: kelompok di Kalimanggis menuju Papringan, dan sebaliknya.

Gambar 4. Terabas Jalur Tim Papringan

Gambar 5. Terabas Jalur Tim Kalimanggis

Perjalanan turun ke Cendana bukan akhir Jungle Survival. Anggota muda mempraktikkan penaksiran pada objek seperti sungai, pohon, dan cuaca. Penaksiran bertujuan mengestimasi kondisi alam secara kasar dengan alat seadanya, mendukung pengambilan keputusan cepat untuk bertahan hidup saat peralatan minim atau darurat.


SURVIVAL BUKAN HANYA TENTANG MAKAN SAAT ITU TAPI TENTANG 
CARA BERTAHAN HIDUP HINGGA ESOK.
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar