Prof. Dr. Hibnu Nugroho, S.H., M.Hum. secara resmi membuka Longmarch Pendidikan Dasar XLII UPL MPA Unsoed pada 19 Januari 2026 dilapangan pusat administrasi Universitas Jenderal Soedirman melalui prosesi upacara dan pemukulan gong. Agenda tahunan ini diselenggarakan bukan sekadar sebagai seremonial, melainkan sebagai wadah penggodokan karakter atau "kawah candradimuka" bagi para calon anggota agar memiliki ketangguhan fisik dan mental yang sesuai dengan kode kehormatan UPL MPA Unsoed. Melalui serangkaian tempaan disiplin yang ketat, para peserta diuji untuk membuktikan komitmen mereka terhadap janji mulia, "Sekali Melangkah, Jiwa Muda Taruhannya".
 |
| Gambar 1. Pemukulan Gong oleh Prof. Dr. Hibnu Nugroho, S.H., M.Hum. |
Antara janji dan kedisiplinan, hari pertama dimulai dengan sebuah keheningan yang
menekan. Langit kelabu dan kelembapan yang mencekik seolah ingin menguji, sejauh mana
api di dada mampu bertahan. Meski jarak yang ditempuh adalah yang terpendek, hari
pertama adalah ujian mental untuk melepaskan segala kenyamanan duniawi. Bergerak
bukan dengan otot semata, melainkan dengan kedisiplinan adalah napas bagi kami.
 |
| Gambar 2. Medan Tanah Curam |
Memasuki hari kedua, raga dipaksa tunduk pada tekad. Kami menapaki hingga titik elevasi
tertinggi, menyentuh batas awan, lalu turun membelah jeram sungai lebar yang menderu. Di
tengah kabut pagi yang mistis dan hujan yang jatuh sebagai restu alam, angkatan XLII
membuktikan filosofi kami. Tak ada langkah yang surut. Ketika jiwa muda sudah ditaruhkan,
sungai selebar apapun hanyalah jembatan menuju kedewasaan.
Hari ketiga adalah pembuktian bahwa rasa sakit hanyalah ilusi. Di atas aspal yang membara,
semangat peserta justru meledak melampaui logika. Udara bergetar oleh teriakan "Hello
Genk!" dan gema yel-yel yang memekakkan telinga sebagai raungan perlawanan terhadap
lelah.
.jpeg) |
| Gambar 3.Medan Aspal |
Memasuki hari keempat, pergerakan fisik sejenak terhenti demi rest day. Namun, di balik
aktivitas MCK, tersimpan makna yang mendalam. Setiap peserta kembali menghujamkan kode kehormatan nomor 5 ke dalam sanubari, menjadi manusia yang cinta tanah air dan pancasilais. Mendapatkan dukungan penuh dari PMI Banyumas, raga kami kembali dipulihkan.
.jpeg) |
| Gambar 4. Bakti Sosial dengan Pemungutan Sampah |
 |
| Gambar 5. Bakti Lingkungan dengan Penanaman Pohon |
.jpeg) |
| Gambar 6. Cek Kesehatan bersama PMI Banyumas |
Tantangan kembali memuncak pada hari kelima. Medan makadam harus ditempuh di bawah
amukan angin kencang dan cuaca yang sulit diprediksi. Ritme memakai dan melepas ponco
menjadi fragmen kesabaran kami melawan alam. Kondisi ini berubah 180 derajat pada hari
keenam, panas terik yang memanggang jalur aspal memaksa otot kaki bekerja melampaui
batas. Medan keras tak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan jalan setapak menuju
kehormatan.
 |
| Gambar 7. Medan Makadam |
.jpeg) |
| Gambar 8. Pemandangan Gardu Pandang |
Hari ketujuh menjadi ujian yang paling riskan. Dua rawa di Cilacap berdiri menghadang. Rawa pertama kami lewati dengan rasa syukur. Berbeda dengan rawa kedua, kami dipaksa bertaruh nyawa saat air
pasang naik hingga mencapai lima meter. Namun, ketangguhan Angkatan XLII tak
tergoyahkan, kami menaklukkan labirin rawa tersebut dengan selamat.
Waktu pengukuhan pun tiba. Di saat magrib menyentuh pesisir pantai dalam balutan
mendung, 19 peserta menuntaskan langkah terakhir. Meski sunset tak nampak, nyala obor
pengukuhan menjadi penawar yang sepadan bagi perjalanan tujuh hari enam malam yang
penuh air mata dan keringat. Kebanggaan membuncah, yel-yel dan teriakan "UPL!" terus
bergema membelah deburan ombak.
 |
| Gambar 9. Medan Rawa |
 |
| Gambar 10. Foto bersama anggota aktif dan tamu undangan |
Upacara penutupan dihadiri oleh para tamu undangan, Anggota Luar Biasa (ALB), serta Wakil
Rektor 3 Unsoed, Prof. Dr. Norman Arie Prayogo, S.Pi, M.Si., sebagai Inspektur Upacara.
Dengan berakhirnya prosesi ini, 19 Peserta Pendidikan Dasar XLII resmi dilantik sebagai anggota muda. Kini bukan
lagi pengembara tanpa nama, melainkan satu keluarga besar dengan nama angkatan “Bara
Sabana.”
 |
| Gambar 11. Upacara Penutupan |
"Seluas dunia, sejauh itu pula langkah kita harus berpijak. Mendakilah, menyelamlah, dan
teruslah menantang batas. Sebab bagi jiwa muda, diam adalah satu-satunya kekalahan yang
nyata”
0 Komentar