![]() |
| Gambar 1. Foto Tim Gunung Hutan AM/BS |
Tim memulai keberangkatan dari Sekretariat menuju Kalipagu menggunakan sepeda motor dengan estimasi waktu tempuh sekitar 15 menit. Sesampainya di basecamp Mamake, tim melakukan ramah tamah dengan pengelola setempat dan menyelesaikan administrasi simaksi sebesar Rp80.000,00 untuk satu tim. Setelah persiapan selesai, tim melanjutkan perjalanan menuju titik camp Papringan. Sebelum langkah pertama dimulai, tim melaksanakan senam pagi yang dipimpin langsung oleh Dheana selaku Komandan Operasi (Danops). Sepanjang jalur menuju Papringan, tim melintasi bentang alam kawasan Kalipagu yang asri dan melewati berbagai perkebunan milik warga, mulai dari kebun kopi, kapulaga, hingga tegakan damar yang menjadi ciri khas vegetasi setempat.
![]() |
| Gambar 2. Wilayah Papringan |
Memasuki kawasan Papringan, karakteristik medan mulai berubah menjadi jalur hutan yang jauh lebih menantang. Pada tahap ini, tim sempat mengalami kesalahan navigasi dengan bergerak ke arah timur, padahal jalur yang seharusnya ditempuh berada di arah utara. Kondisi fisik yang mulai menurun akibat kesalahan jalur tersebut membuat Danops mengambil keputusan taktis untuk melaksanakan ISHOMA (Istirahat, Salat, dan Makan) dengan durasi yang lebih singkat agar efisiensi waktu tetap terjaga dan perjalanan dapat segera dilanjutkan. Setelah beristirahat sejenak, kondisi fisik serta konsentrasi tim kembali pulih. Berbekal evaluasi jalur dan koordinasi intensif antaranggota, tim akhirnya berhasil menemukan lintasan yang benar hingga tiba dengan selamat di titik perkemahan Papringan. Sebagai lokasi yang baru pertama kali dikunjungi, kawasan tersebut memberikan tantangan tersendiri dalam proses orientasi medan serta penentuan lokasi pendirian camp.
![]() |
| Gambar 2. Peta Kegiatan |
Malam pertama di Papringan berlangsung dengan suasana yang cukup menyenangkan dan bersahabat. Untuk pertama kalinya dalam beberapa kegiatan lapangan terakhir, tim dapat melaksanakan seluruh aktivitas tanpa diguyur hujan. Kondisi cuaca yang cerah ini memberikan kesempatan emas bagi peserta untuk mempraktikkan teknik pembangunan bivak semialam secara optimal dan rapi. Namun, menjelang larut malam, angin berhembus cukup kencang dengan suhu udara yang diperkirakan menurun hingga berkisar antara 5–10 derajat Celsius. Beruntung, penerapan manajemen perapian yang baik serta persediaan kayu bakar yang cukup membuat api unggun tetap menyala hangat hingga pagi hari, sehingga sangat membantu menjaga suhu tubuh seluruh anggota tim dari ancaman hipotermia.
Memasuki hari kedua, perjalanan kembali dilanjutkan dengan semangat moral yang tinggi. Medan yang semula diperkirakan hanya menyusuri jalur punggungan, ternyata mengharuskan tim melewati berbagai lembahan curam dan punggungan yang cukup menguras tenaga. Tantangan kembali menguji tim ketika terjadi kesalahan dalam menentukan arah saat berada di sekitar Puncak Karang. Jalur yang dipilih ternyata bukanlah rute menuju tujuan utama, sehingga tim justru memasuki kawasan dengan vegetasi rotan yang sangat rapat dan hamparan pakis yang tinggi. Vegetasi yang lebat serta medan yang sulit dilalui benar-benar menguji kemampuan navigasi darat, ketahanan fisik, dan ketangguhan mental kerja sama seluruh anggota tim. Dalam kondisi terdesak tersebut, soliditas dan kepedulian antaranggota semakin terlihat; setiap personel saling membantu membuka jalur menggunakan parang dan melewati berbagai halang rintang alam, hingga akhirnya tim berhasil menemukan kembali jalur utama yang mengarah ke titik perkemahan Ciangin.
![]() |
| Gambar 3. Praktik Guide-compass |
Setibanya di Ciangin, tim menyadari bahwa perjalanan hari kedua dapat diselesaikan lebih cepat dari estimasi waktu yang diperkirakan. Hal ini memberikan waktu luang yang cukup bagi tim untuk melaksanakan seluruh manajemen aktivitas perkemahan dengan lebih tenang dan teratur. Pada sore hari, cuaca sempat diwarnai oleh langit mendung dan embusan angin yang berubah-ubah arah merupakan tanda-tanda alam yang memperkirakan hujan akan segera turun. Seluruh kegiatan pendirian camp dan pengamanan barang pun segera diselesaikan dengan cepat sebagai bentuk antisipasi terhadap perubahan cuaca ekstrem. Namun, perkiraan buruk tersebut tidak terjadi; langit kembali cerah sempurna dan malam di Ciangin dihiasi oleh hamparan bintang yang begitu terang. Kondisi alam yang indah ini menjadi penutup perjalanan hari kedua yang sempurna, sekaligus memberikan pengalaman berharga bahwa dalam kegiatan pengembaraan alam bebas, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mencapai tujuan akhir, tetapi juga oleh kesadaran dan kesiapan penuh dalam menghadapi ketidakpastian alam.
![]() |
| Gambar 4. Praktik Resection |
Melalui rangkaian kegiatan Latihan Lapang Pengembaraan ini, Anggota Muda Bara Sabana memperoleh pengalaman nyata dan mendalam mengenai pentingnya akurasi navigasi, keandalan manajemen perjalanan, ketahanan fisik, serta soliditas kerja sama tim. Kesalahan arah yang sempat dialami bukanlah sebuah kegagalan, melainkan bagian dari proses pembelajaran krusial yang memperkuat intuisi serta kemampuan peserta dalam mengambil keputusan di bawah tekanan lapangan. Setiap tantangan yang dihadapi di lapangan menjadi bekal berharga untuk melangkah ke tahapan pembinaan dan pengembaraan berikutnya.
“Tersesat adalah proses menuju keberhasilan.” — Moto Pengembaraan Anggota Muda Bara Sabana Divisi Gunung Hutan





0 Komentar