PENDAKIAN WAJIB GUNUNG SLAMET ANGGOTA MUDA BARA SABANA: SATU LANGKAH LAGI NAMUN HARUS KEMBALI

Pendakian Gunung Slamet melalui jalur Sawangan menjadi salah satu pengalaman yang sangat bermakna. Kegiatan Pendakian Wajib Gunung Slamet Anggota Muda Bara Sabana bukan sekadar perjalanan, tetapi juga proses pembelajaran dalam membentuk cara berpikir, bersikap, dan memaknai kebersamaan dalam tim. Persiapan dilakukan dengan cukup matang, mulai dari latihan fisik, koordinasi, hingga pengaturan logistik. Kegiatan ini dilaksanakan pada 3–5 April 2026.

Gambar 1. Pembukaan Pendakian Wajib Anggota Muda Bara Sabana

Pendakian Wajib Gunung Slamet Anggota Muda Bara Sabana ini dibagi menjadi dua kloter, kloter 1 terdiri dari kelompok 1 dan kelompok 2, sedangkan kloter 2 terdiri dari kelompok 3 dan kelompok 4. Kelompok 1 beranggotakan empat orang Anggota Muda Bara Sabana, yaitu Gustiar Ali Wijoyo, Setya Putra Wibowo, Diana Indah Lestari, dan Salwa Rahmadhani. Pendakian ini didampingi oleh dua orang Anggota Biasa, yaitu M. Naufal Habib Falah (NRP.UPL-2023506/Elang Kelabu) dan Zebi Femi Ibrahim Aryanto (NRP.UPL-2025531/Igir Samudra). Kelompok 1 melakukan pendakian melalui Basecamp Sawangan yang berada di Desa Sawangan, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal.

Gambar 2. Tim di Basecamp Sawangan

Salah satu flora yang tim temukan di Jalur Sawangan ini adalah Mulberi. Jalur Sawangan tergolong cukup sepi. Jalur ini didominasi hutan lebat, tanjakan panjang, serta beberapa area terbuka dengan angin yang cukup kencang. Kondisi tersebut menuntut setiap anggota tim untuk lebih peka terhadap diri sendiri dan sesama.

Gambar 3. Flora yang ditemukan yaitu Mulberi

Gambar 4. Tim Melewati jalur dengan Vegetasi Rapat

Jalur dari Basecamp Sawangan sampai ke Pos 4 melewati permukiman warga, perkebunan, sabana, dan hutan lumut dengan vegetasi yang cukup rapat. Perjalanan terasa cukup melelahkan karena medan yang berat dan kabut tebal. Rencana pendakian menuju puncak mengalami perubahan. Tim hanya diperbolehkan melanjutkan perjalanan hingga Pos 5. Di tengah perjalanan, aktivitas vulkanik Gunung Slamet meningkat secara signifikan. Tim akhirnya hanya dapat mencapai batas aman pendakian dan diminta untuk segera turun demi keselamatan.

Gambar 5. Batas Aman Pendakian

Adanya kegiatan ini muncul perasaan yang sulit dijelaskan, antara lega, haru, dan bangga. Meskipun tidak mencapai puncak, seluruh proses tetap menjadi pengalaman berharga. Pendakian ini mengajarkan arti kesabaran, kebersamaan, dan pentingnya menghargai alam. Di tengah langkah yang kadang terasa berat dan napas yang mulai tidak beraturan, ada perasaan aneh tapi hangat yang muncul seolah-olah alam sedang mengajak berdialog tanpa kata, mengingatkan bahwa tidak semua hal harus ditaklukkan, kadang cukup dijalani dengan penuh kesadaran dan rasa hormat.

Gambar 6. Tim 2 Kembali Menuju Basecamp

Reactions

Posting Komentar

0 Komentar