Unit Pandu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman melakukan simulasi pendidikan lanjutan pada 1–3 Mei 2026 di Rawa Tritih Kulon, Cilacap. Kegiatan ini diikuti oleh 6 orang anggota biasa, yaitu Gael Gellet NRP.UPL-2024517/Cakar Karang, Ibnu Syahrizal Shadzimin NRP.UPL-2024528/Cakar Karang, Habib Manarul Huda NRP.UPL-2025534/Igir Samudra, Marelyne Shinta NRP.UPL-2025535/Igir Samudra, Ihsaan Hanafi NRP.UPL-2025540/Igir Samudra dan Inayati Hasanah NRP.UPL-2025542/Igir Samudra, yang akan meningkatkan keterampilan melakukan penjelajahan rawa insting bertahan hidup dan observasi serangga.
| Gambar 1. Persiapan Tim |
Lahan rawa dapat diartikan sebagai daerah payau, antara tawar dan asin, daratan lumpur basah dan kering. Penjelajahan yang dilakukan didasarkan pada target yang telah ditentukan pada peta dengan menerapkan dua teknik penjelajahan. Teknik penjelajahan basah saat pasang datang tidak terlalu menghabiskan banyak tenaga karena dibantu oleh tekanan air sebagai sumber tenaga untuk bergerak. Sedangkan, penjelajahan kering saat surut menyisakan ‘lantai’’ lumpur yang harus dilewati untuk mencapai target. Titik tuju yang menjadi acuan pada peta dinavigasikan bermodalkan sebuah kompas bidik, orientasi medan, protaktor dan GPS sebagai pendukung keakuratan lokasi.
| Gambar 2. Penjelajahan Rawa |
Selama melakukan penjelajahan beberapa Totog (Geloina expansa) dan Keong bakau (T. Telescopium) diambil dari batang nipah untuk santapan makan malam dipadu dengan nasi putih hangat. Pengolahan totog dan keong bakau cukup sederhana; pertama direbus dalam air garam hingga menyisakan sedikit air, kemudian buang bagian bawah tubuhnya (bagian yang keras) dan kotoran (bagian yang gelap), terakhir kreasikan ide masak pada keong matang tersebut. Ditemukan juga Nipah (Nypa fruticans) matang siap santap sebagai makanan pencuci mulut. Semua kegiatan akan selalu ditutup sekaligus diterangi oleh sinar bulan yang terang di atas kantong tidur gantung di batang Avicennia. Tak lupa diselingi pengamatan beberapa serangga yang terpikat dan melekat di yellow trap pada Avicenna di depan tempat istirahat.
| Gambar 3. Hidangan Malam Totog dan Keong Laut |
| Gambar 4. Nipah |
| Gambar 5. Yellow Trap |
Secara keseluruhan, tahap simulasi pendidikan lanjutan ini adalah langkah awal untuk meningkatkan keterampilan penjelajahan, observasi, survival dan teknik karakterisasi botani dan zoologi di medan rawa. Pasang surut air bukan lagi halang ringang untuk terus melanjutkan ekspedisi rawa ini.
“Pasang surut air laut bahkan lumpur sekalipun takkan mampu menggoyahkan kuatnya kaki”
Salam lumpur, Salam Wetlands
0 Komentar