SIMULASI DIVISI GUNUNG HUTAN ANGGOTA MUDA BARA SABANA: MENERJANG DERASNYA HUJAN, MENGASAH MENTAL PARA RIMBAWAN

Divisi Gunung Hutan Anggota Muda Bara Sabana telah melaksanakan kegiatan simulasi pada tanggal 15–17 Mei 2026 di kawasan Kalipagu. Kegiatan ini diikuti oleh tim pengembaraan divisi gunung hutan dengan koordinator Dheana Setyaningsih (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), dan anggota tim Diana Indah Lestari (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), Galang Wisnu Saputra (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), Putraku Cahya Islami (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), dan Raden Ahmad Hafid (NRP.UPL-AM/Bara Sabana) serta dua pendamping Muhammad Fathoni Attoriq (NRP.UPL-2024514/CK) dan Alifia Rahmawati (NRP.UPL-2024515/CK). Kegiatan simulasi ini dilakukan untuk melatih kemampuan survival, navigasi, SAR, kerja sama tim, serta kesiapan mental dan fisik di alam bebas. Selama kegiatan berlangsung, peserta menjalani berbagai rangkaian seperti tracking, penaksiran arus dan lebar sungai, penaksiran cuaca, penaksiran tinggi pohon, pembuatan bivak semi alam dan perapian, hingga praktik survival dengan menerapkan materi yang sudah dipelajari sebelumnya.

Gambar 1. Tim Divisi Gunung Hutan

Perjalanan hari pertama kegiatan simulasi ini yaitu menuju titik B Kalimanggis pada koordinat geografis 109° 11' 40"BT dan 07° 18' 35"LS, koordinat grid 030066.919166 dan berada di ketinggian 1065 mdpl. Perjalanan dirasa cukup menantang karena peserta harus melewati jalan licin, aliran sungai, jalur sempit, hingga medan berlumpur. Meski melelahkan, seluruh tim tetap saling membantu dan menjaga kekompakan selama perjalanan berlangsung.

Gambar 2. Titik 1 Plotting

Tim melanjutkan perjalanan di hari selanjutnya menuju Titik C Papringan pada koordinat geografis 109° 12' 09" BT dan 07° 18' 39" LS, koordinat grid 030168.919150 dan berada di ketinggian 1055 mdpl dengan menerapkan metodologi SAR, disini tim menggunakan teknik ESAR dengan metode detection close grid, yaitu teknik pencarian jarak dekat dengan penyapuan sangat cermat di area spesifik. Tim membidik kompas dengan derajat yang sesuai dengan titik camp Papringan, setelah membidik tim pun menerabas semak belukar yang sangat lebat, tak hanya semak belukar yang menjadi rintangan, tim juga harus lembahan dan punggungan yang terjal dalam keadaan hujan lebat yang turun tanpa toleransi membuat perjalanan menjadi semakin menantang.

Gambar 3. Trabas Kalimanggis-Papringan 

Suasana kebersamaan terasa semakin hangat saat peserta beristirahat, makan bersama, dan saling menyemangati satu sama lain. Tim juga menerapkan metodologi penaksiran yang meliputi, penaksiran arus sungai, lebar sungai, tinggi pohon, dan penaksiran cuaca. Selain itu tim juga menerapkan teknik survival, tim mencari biologi praktis seperti begonia, harendong, poh pohan, umbut pisang, pandan berduri, katak, belalang, cacing, dan udang. Tim mendirikan bivak semi alam dengan menggunakan bambu yang diikat menggunakan akar, juga menggunakan daun sebagai tambahan atap. Selain itu, tim juga membuat perapian untuk memasak dan menghangatkan tubuh.

Gambar 4. Praktik Membuat Bivak Semi Alam

Gambar 5. Praktik Membuat Perapian

Tidak hanya penuh tantangan, kegiatan ini juga dipenuhi momen-momen seru dan kebersamaan yang sulit dilupakan. Canda tawa saat memasak, perjalanan panjang yang dilalui bersama, hingga kerjasama saat menyelesaikan setiap tugas menjadi pengalaman yang mempererat hubungan personil tim. Dari kegiatan ini, tim tidak hanya mendapatkan ilmu dan pengalaman baru, tetapi juga belajar mengenai arti tanggung jawab, solidaritas, pentingnya komunikasi dalam sebuah tim dan metodologi yang bisa diterapkan untuk kegiatan kedepannya.


Alam tidak akan mentoleransi siapapun. Maka dari itu, persiapan matang menjadi hal terpenting sebelum berkegiatan di alam bebas.


Hello Genk!! 

Reactions

Posting Komentar

0 Komentar