Simulasi Pengembaraan Panjat Tebing Mromong & Hest Anggota Muda Bara Sabana UPL MPA Unsoed: Mengenal dan Eksplorasi Batuan Karst Gumelar, Banyumas

 Salam Panjat!!

Unit Pandu Lingkungan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Jenderal Soedirman (UPL MPA Unsoed) melaksanakan simulasi pengembaraan divisi panjat tebing anggota muda bara sabana di Tebing Mromong &  Hest, Desa Darmakradenan, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, pada tanggal 29–31 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti oleh enam anggota muda; Arna Ghaysa Mauludika (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), Ibrahim Murdani (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), Irfan Ahmad Sholahuddin (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), Muhammad Rizieq Hibatullah (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), Salwa Ramadhani (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), dan Zulfi Nandita Rakhma (NRP.UPL-AM/Bara Sabana) serta dua pendamping; Ali Sabab Izzul Abi (NRP.UPL-2024516/EK), dan Fahriel Fernandes Mafu (NRP.UPL2024525/CK). 

Pada simulasi ini menggunakan sistem pemanjatan Himalayan, yang dimana suatu pemanjatan dikatakan berhasil apabila salah satu anggota tim berhasil mencapai puncak tebing. Selain itu, kami juga melaksanakan manajemen perjalanan, pemetaan jalur navigasi darat dan jalur pemanjatan. Tujuan dilaksanakannya kegiatan simulasi ini adalah untuk mengaplikasikan teknik-teknik dan sistem pemanjatan seperti; Artificial Climbing, hanging belay, hanging camp, double rope dan double belay.

Gambar 1. Pemanjatan Tebing Mromong

Gambar 2. Gua Tebing Mromong

Tebing Mromong berada di Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Tebing ini memiliki ketinggian sekitar 15 meter dari dasar tebing dengan tersusun oleh jenis batuan karst. Untuk mencapai lokasi Tebing Mromong dapat ditempuh dari perbatasan Purwokerto sampai Gumelar dan menuju ke daerah Paningkaban, dari Desa Paningkaban berjalan kaki kira-kira 500 meter untuk mencapai ke dasar tebing. Selama kegiatan, tim membagi tugas antara pemanjatan untuk pemasangan jalur Single Rope Technique (SRT) dan persiapan perlengkapan lapangan seperti flysheet serta pengelolaan peralatan yang dibawa menggunakan tas khusus berkapasitas besar (carrier). Teknik SRT yang digunakan merupakan metode ascending dengan satu tali sebagai jalur naik dan turun pada medan vertikal. 

Karakteristik Tebing Mromong cukup unik berupa tebing karst atau batuan kapur yang memiliki gua, gua ini berada dipuncak pemanjatan, pemanjat dapat melihat view yang memukau sehingga memberikan kepuasan setalah melakukan pemanjatan. Pada tebing ini terdapat banyak jenis pengaman yang lebih mudah untuk diaplikasikan, karena terdapat banyak celah batuan yang bisa digunakan untuk dipasang pengaman, seperti sling, pitons, bong, dan chock hexa. Untuk menuju lokasi tebing harus berjalan terlebih dahulu melewati jalan aspal lalu naik melewati hutan, posisi tebing berada di puncak bukit. Tebing ini cocok digunakan untuk berkegiatan pengenalan pemanjatan tebing alam.

Gambar 3. Teknik Single Rope Technique (SRT)

Gambar 4. Teknik Rescue Team

Single Rope Technique (SRT) adalah teknik yang dipergunakan untuk menelusuri medan vertikal dengan menggunakan satu tali sebagai lintasan untuk naik dan turun melalui medan-medan vertikal. Single Rope Technique akan dipraktekkan pada Tebing Mromong setinggi 15 meter dari dasar tebing menggunakan sistem jumaring.

Teknik Rescue team merupakan kemampuan individu untuk menyelamatkan tim dari keadaan darurat, biasanya terdapat pada medan vertikal. Misi inti rescuer yaitu menyelamatkan dan menurunkan tim dengan suatu alat descender atau alat untuk turun yang dilaukan secara bersamaan dengan rescuer.

Gambar 5. Pemanjatan Tebing Hest

Gambar 6. Hanging Camp

Kemudian Tebing Hest berada pada daerah yang sama dengan Tebing Mromong bahkan bersebelahan dengan Tebing Mromong. Tebing Hest memiliki dasar Tebing yang luas dan memiliki ketinggian sekitar 15 meter. Tingkat kesulitan pada Tebing Hest cukup bervariatif, sebelah kanan memiliki grade yang sedang karena dapat berpegangan pada akar pohon sedangkan pada sebelah kiri memiliki grade yang sulit karena harus mengkombinasikan antara kekuatan tangan dan keterampilan memanjat. 

Hanging camp merupakan teknik menginap di tebing dengan salah satu tujuannya untuk menghemat waktu dan tenaga dalam pemanjatan. Hanging camp biasanya digunakan pada tebing dengan katagori big wall, di mana untuk menyelesaikan pemanjatannya dibutuhkan waktu lebih dari satu hari. Jadi, untuk menghemat waktu dan tenaga dalam pemanjatannya, pemanjat tidak perlu turun lagi ke bawah untuk menginap di dasar tebing. Terdapat beberapa cara untuk melakukan teknik hanging camp, antara lain menggunakan doome khusus untuk di tebing, menggunakan hammock, atau bisa memanfaatkan teras-teras tebing. 

“Ketinggian bukanlah batasan, gapailah puncak dengan ketrampilan dan pemahaman.”

Climb Or Never

Hello Genk!! Salam Panjat!!

Reactions

Posting Komentar

0 Komentar