Mengukir Pengalaman Di Setiap Meter Ketinggian Tebing Lawe

Salam Panjat!!

— Unit Pandu Lingkungan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Jenderal Soedirman (UPL MPA UNSOED) melaksanakan Try Out Pengembaraan Divisi Panjat Tebing Anggota Muda Bara Sabana di Tebing Lawe, Desa Kendaga, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, pada tanggal 18– 23 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh lima Anggota Muda; Arna Ghaysa Mauludika (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), Ibrahim Murdani (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), Muhammad Rizieq Hibatullah (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), Salwa Ramadhani (NRP.UPL-AM/Bara Sabana), & Zulfi Nandita Rakhma (NRP.UPL-AM/Bara Sabana) dan dua pendamping; Ali Sabab Izzul Abi (NRP.UPL-2024516/EK) dan Achmad Muchlisin (NRP.UPL-2024523/CK).

Pada Try Out ini menggunakan sistem pemanjatan Himalayan, yang dimana suatu pemanjatan dikatakan berhasil apabila salah satu anggota tim berhasil mencapai puncak tebing. Selain itu, kami juga melaksanakan manajemen perjalanan, pemetaan jalur navigasi darat dan jalur pemanjatan. Tujuan dilaksanakannya kegiatan Try Out ini adalah untuk mengaplikasikan teknik-teknik dan sistem pemanjatan seperti; Artificial Climbing, Single Rope Technique, hanging camp, double rope dan hangging belay.

Gambar 1. Sistem Pemanjatan Artificial Climbing

Gambar 2. Sistem Hangging Belay

Tebing Lawe berada di Desa Kendaga, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Untuk menuju dasar tebing, dari basecamp ke dasar tebing harus menempuh perjalanan ±0,42 km dengan waktu ±15 menit. Perjalanannya harus melewati jalan beton, menanjak, dan dominan kebun salak. Untuk mencapai area camp dari jalan raya, perjalanan dimulai dengan memasuki jalan menanjak di kawasan kebun salak melalui sisi kiri sebuah warung. Ikuti jalur hingga menemukan pertigaan pertama, kemudian ambil jalur kanan. Lanjutkan perjalanan sampai bertemu pertigaan kedua yang berupa jalan tanah setapak, lalu kembali ambil jalur kanan. Ikuti jalur menanjak hingga mencapai sebuah gubuk, kemudian terus berjalan lurus menanjak sampai menemukan tanjakan tanah berbatu yang menyerupai tangga. Selanjutnya, tetap ikuti jalur yang mengarah di sepanjang tebing hingga keluar dari area kebun salak. Dari titik tersebut, perjalanan akan berakhir di area camp.

Karakteristik dari batuan Tebing Lawe yaitu batuan andesit dan berkapur. Banyak jamur, lumut, dan tumbuhan rumput liar yang tumbuh disana. Ada beberapa batuan yang rapuh dan mudah lepas dari tebing. Tebing Lawe memiliki ketinggian 230 meter, pada pemanjatan yang di lakukan Anggota Muda Bara Sabana kali ini berhasil melebihi target mereka yaitu sampai Pitch 3 di ketinggian 77 meter dari dasar tebing. Tebing Lawe memiliki 2 - 3 overhang, dengan overhang pertama merupakan jalur yang melipir ke kiri dan overhang selanjutnya ada pada ±3 meter setelah overhang pertama. Terdapat 2 jalur, yaitu jalur utama berada di sebelah kanan overhang tebing Lawe. Jalur ini merupakan jalur terbaru setelah pemanjatan terakhir sekitar ±2 tahun lalu. Tetapi hanger yang terpasang saat ini sudah mulai berkarat, namun dari segi kekuatan hanger yang terpasang masih kuat.


Gambar 3. Jalur Pemanjatan Tebing Lawe



Gambar 4. Metode Descending

Jalur pemanjatan pada Tebing Lawe menggunakan jalur lama dengan mengikuti titik-titik hanger yang telah terpasang sebagai jalur utama pemanjatan. Kegiatan pemanjatan berhasil mencapai pitch 3, melampaui target awal yang telah ditentukan. Pitch 3 berada pada ketinggian sekitar 77 meter dari dasar tebing. Selama proses pemanjatan, selain memanfaatkan hanger yang tersedia, tim juga menemukan beberapa peralatan pengaman yang telah terpasang pada jalur, yaitu chock friend serta dua tali prusik, yang mengindikasikan bahwa jalur tersebut sebelumnya pernah digunakan sebagai lintasan pemanjatan. Kondisi jalur secara umum masih memungkinkan untuk dilalui dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan, sehingga pemanjatan dapat berlangsung dengan lancar hingga mencapai titik akhir pada pitch 3.

Metode Ascending adalah metode yang digunakan untuk menambah ketinggian pada teknik SRT, pemanjat biasanya menggunakan Jumar dan Grigri sebagai penahan beban utama dalam pemanjatan. Sedangkan, metode Descending adalah metode yang digunakan pemanjat untuk turun ketika menggunakan teknik SRT, alat yang digunakan yaitu; Autostop, Grigri dan Figure of Eight.


Gambar 5. Hanging Camp pada Pitch 2


Gambar 6. Aktivitas Camp Tim Panjat

Hanging camp merupakan teknik menginap di tebing dengan salah satu tujuannya untuk menghemat waktu dan tenaga dalam pemanjatan. Hanging camp biasanya digunakan pada tebing dengan katagori big wall, di mana untuk menyelesaikan pemanjatannya dibutuhkan waktu lebih dari satu hari. Jadi, untuk menghemat waktu dan tenaga dalam pemanjatannya, pemanjat tidak perlu turun lagi ke bawah untuk menginap di dasar tebing. Terdapat beberapa cara untuk melakukan teknik hanging camp, antara lain menggunakan doome khusus untuk di tebing, menggunakan hammock, atau bisa memanfaatkan teras-teras tebing.

Pitch adalah suatu bagian dari tebing yang aman digunakan untuk berhenti dan membuat anchor biasanya berbentuk teras, pada pemanjatan di tebing ini, pitch yang ditemukan berjenis Slab Pitch yaitu pitch dengan kemiringan kurang dari 90 derajat yang landai, dan sangat mengandalkan gesekan sepatu dan keseimbangan kaki. Disinilah titik dimana semua pemanjat berada di ketinggian yang sama.



Gambar 7. Sunset pada Pitch 2 Tebing Lawe


Gambar 8. City Light pada pitch 2 Tebing Lawe

Perjalanan ini mungkin telah usai, namun setiap jejak di Tebing Lawe akan terus menjadi pengingat bahwa tantangan bukan untuk dihindari, melainkan dihadapi. Sebab, pengalaman terbaik selalu lahir dari keberanian untuk melangkah lebih tinggi.

Hello Genk!!
Salam Panjat!!
Climb Now or Never

Reactions

Posting Komentar

0 Komentar