Try Out Pengembaraan Divisi Gunung Hutan
MENERJANG RAPATNYA RIMBA, MENANAMKAN JIWA PEJUANG
Kalipagu - Baturraden | 15 - 19 Agustus 2026 | Bara Sabana UPL MPA Unsoed
"Menembus batas vegetasi, membelah belantara. Bukan sekadar tentang bertahan hidup, tapi tentang menemukan nyala juang di tengah lebatnya hutan hujan tropis."
Divisi Gunung Hutan Anggota Muda Bara Sabana telah sukses melaksanakan kegiatan Try Out pada tanggal 15-19 Agustus 2026 di kawasan Kalipagu, Kaliwadas, Baturraden Lama. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah kemampuan teknis sekaligus menjadi bekal dalam menghadapi kegiatan Operasional sebagai tahapan pengembaraan anggota muda.
Susunan Tim Ekspedisi
Try Out ini diikuti oleh tim pengembaraan dengan formasi:
- Koordinator: Dheana Setyaningsih (NRP.UPL-AM/Bara Sabana)
- Anggota Muda: Galang Wisnu Saputra, Putraku Cahya Islami, dan Raden Ahmad Hafid (NRP.UPL-AM/Bara Sabana)
- Pendamping: Naila Andina Amaralita (Cakar Karang), Muhamad Irsal Yakhsa (Cakar Karang), dan Akbar Agesta (Igir Samudra)
Seluruh rangkaian latihan dirancang mencakup manajemen perjalanan, manajemen air, navigasi darat, hingga teknik perapian fundamental.
Seni Trabas Vegetasi & Presisi Navigasi Darat
Pada kegiatan Try Out ini didominasi oleh penerapan teknik trabas vegetasi (bushwhacking) secara intensif dan kontinu. Leader yang memimpin perjalanan diwajibkan membuka jalur pergerakan baru secara mandiri. Mereka harus menyusuri satu bentangan punggungan utuh dari titik camp Igir Dawa hingga bertemu jalur Kaliwadas Lama, tanpa bergantung pada jalur pendakian umum maupun jejak setapak buatan manusia.
Kondisi vegetasi lereng selatan dipenuhi rapatnya paku-pakuan, semak berduri, akar liana merambat, hingga pepohonan hutan hujan tropis berkanopi tinggi. Ekosistem ini menuntut fisik yang prima serta kewaspadaan ekstra guna meminimalisasi risiko. Dalam proses pembukaan jalur, tim mempraktikkan teknik navigasi darat presisi tinggi (resection, dan intersection). Berbekal peta topografi, kompas, dan protaktor, tim secara berkala mencocokkan kondisi bentang alam nyata dengan garis kontur untuk memastikan arah tetap berada di koridor punggungan yang direncanakan.
Langkah Awal: Kalipagu Menuju Kalimanggis
Dimulai dari Sekretariat UPL MPA Unsoed, tim bergerak menuju Basecamp Kalipagu. Usai mengurus simaksi, perjalanan dimulai dengan pemanasan dan langsung menyusuri rute melewati perumahan warga, perkebunan kapulaga, hingga deretan pohon damar yang menjadi ciri khas lower montane forest (hutan montane kawasan bawah) di Kalipagu.
Menuju Camp A di Kalimanggis, jalur didominasi rimbunnya pohon bambu dan tumbuhan paku. Kondisi lahan camp yang biasanya lembap, secara mengejutkan dalam kondisi benar-benar kering! Hal ini menjadi keberuntungan psikis tersendiri bagi tim. Kayu dan ranting kering memudahkan pembuatan perapian. Malam pertama dihiasi bintang yang bersinar terang, menghangatkan badan dan mengenalkan syahdunya hutan tropis kalimanggis sebelum bersiap menghadapi medan esok hari.
Menggapai Igir Dawa & Ekspedisi Kemerdekaan
Hari kedua menargetkan Camp Igir Dawa. Medan berubah ekstrem dengan elevasi naik mencapai 600 meter! Meski lelah, semangat tak kunjung padam karena jalur masih cukup jelas. Setibanya di Igir Dawa, kebahagiaan terpancar walau lahan camp hanya muat untuk 2 tenda berdesakan bersama perapian.
17 Agustus 2026. Tepat di Hari Kemerdekaan, tim melakukan guide punggungan sejauh 4 km menuju jalur Kaliwadas Lama. Ini adalah ujian sebenarnya! Trabas hutan diwarnai tanaman berduri, paku-pakuan, liana, dan serbukan bunga Baby’s Breath liar yang mengganggu pernapasan. Elevasi melonjak drastis hingga 800 meter ke atas. Tenaga terkuras habis, mengharuskan tim bergonta-ganti leader pembuka jalan.
Perjuangan terbayar lunas. Tim mencapai titik finish di pertigaan Kaliwadas-Baturraden Lama. Angin kencang, lautan awan, dan pemandangan spektakuler menjadi hadiah sempurna memperingati 17 Agustus di atas awan.
Menuruni Ekstremnya Baturraden Lama
Perjalanan belum usai. Tim harus turun melewati Baturraden Lama, jalur legendaris yang konon menjadi habitat macan tutul Jawa. Pandangan terhalang oleh vegetasi bunga yang menutupi rute tanpa penunjuk arah yang pasti. Semburat senja yang memanjakan mata sejenak menjadi pelipur lara, mengingatkan tim akan kebesaran Tuhan di tengah kerasnya alam.
Fase turun ini adalah ujian mental tertinggi. Terik matahari membakar, jalur gersang, dan energi yang semakin menipis. Namun dengan fokus penuh dan istirahat yang minim, tim berhasil melibas jarak sekitar 20 km dalam waktu 7 jam saja!
Melalui kegiatan ini, diharapkan Anggota Muda Bara Sabana semakin siap menghadapi tahapan pengembaraan dan kegiatan operasional sesungguhnya di Divisi Gunung Hutan, dengan kemampuan teknis, mental, dan soliditas kerja sama tim yang tak tertembus.
.jpg)
.jpg)

0 Komentar