SIMULASI DIVISI KONSERVASI MANGROVE ANGGOTA MUDA BARA SABANA: UNGKAP KEANEKARAGAMAN VEGETASI DAN PENTINGNYA PELESTARIAN EKOSISTEM MANGROVE


Unit Pandu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman melakukan simulasi pengembaran pada 19–22 Juni 2026 di kawasan Wisata Hutan Payau, Desa Tritih Kulon, Cilacap. Kegiatan ini diikuti oleh 7 orang anggota, yaitu Ibnu Syahrizal Shadzimin NRP.UPL-2024528/Cakar Karang beserta Primacinta Asa Nareswari  NRP.UPL-2025539/Igir Samudra sebagai pendamping dan Ahnaf Naufal Pradata NRP.UPL-AM/Bara Sabana, Gustiar Ali Wijoyo NRP.UPL-AM/Bara Sabana, Setya Putra Wibowo NRP.UPL-AM/Bara Sabana, Siti Wardah NRP.UPL-AM/Bara Sabana, Via Ismatul Maula NRP.UPL-AM/Bara Sabana sebagai peserta yang akan melakukan penelitian dengan cara pengamatan langsung, pengukuran vegetasi, dokumentasi lapangan, dan identifikasi spesies mangrove.

Gambar 1. Tim Divisi Konservasi Mangrove

Penelitian dilaksanakan di kawasan Hutan Payau Cilacap yang berada di Desa Tritih Kulon, Kecamatan Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kawasan ini merupakan hutan mangrove yang berfungsi sebagai pelindung pesisir, habitat biota, serta sarana edukasi dan wisata lingkungan. Dalam penelitian ini tim menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analisis vegetasi melalui metode jalur (transek). Data dikumpulkan melalui observasi langsung, pengukuran diameter batang, identifikasi spesies, pencatatan jumlah individu, serta dokumentasi lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman spesies mangrove serta mengidentifikasi berbagai gangguan atau tekanan lingkungan yang dapat memengaruhi keberlangsungan ekosistem mangrove di Hutan Payau Cilacap. Penelitian dilakukan karena mangrove memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Mangrove berfungsi sebagai penahan abrasi, perangkap sedimen, habitat berbagai organisme, serta pelindung alami kawasan pesisir dari ancaman kerusakan lingkungan.

Gambar 2. Pemasangan Line Transek

Gambar 3. Mendata Vegetasi

Gambar 4. Mendata Vegetasi diantara Akar Tunjang

Selama kegiatan, tim menelusuri kawasan mangrove yang didominasi oleh akar tunjang dan substrat berlumpur untuk melakukan pengukuran vegetasi pada beberapa plot pengamatan. Kondisi vegetasi mangrove di lapangan masih cukup rapat dengan sistem akar tunjang yang berkembang baik. Keberadaan semai dan pancang yang cukup banyak pada area pengamatan menunjukkan bahwa proses regenerasi alami mangrove masih berlangsung dengan baik. Kondisi ini menjadi indikator positif bagi keberlanjutan ekosistem mangrove di masa mendatang. Dalam penelitian kali ini tim berhasil mendata lima spesies mangrove yang ditemukan, yaitu Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Xylocarpus granatum, Nypa fruticans, dan Acanthus ilicifolius. Tim juga menemukan berbagai organisme yang hidup di sekitar kawasan mangrove, seperti moluska yang ditemukan pada substrat lumpur dan di sekitar akar mangrove. Selain itu, terlihat pula lubang-lubang kecil pada substrat yang mengindikasikan aktivitas fauna bentik seperti kepiting dan organisme penghuni dasar lainnya. Kehadiran berbagai organisme tersebut menunjukkan bahwa kawasan Hutan Payau masih mendukung berlangsungnya proses ekologis secara alami.


Gambar 5. Makrozoobentos yang ditemukan

Berdasarkan hasil analisis, tim menilai bahwa komunitas mangrove masih didominasi oleh beberapa spesies utama, terutama dari genus Rhizophora. Meskipun demikian, keberadaan lima spesies mangrove yang teridentifikasi menunjukkan bahwa kawasan ini tetap memiliki nilai keanekaragaman yang penting untuk dipertahankan.

Melalui kegiatan ini, Tim Divisi Konservasi Mangrove Anggota Muda Bara Sabana berharap penelitian dapat menjadi sumber informasi bagi upaya konservasi serta mendorong masyarakat dan para pelajar dalam menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove sebagai aset lingkungan yang bernilai tinggi bagi generasi mendatang.

Reactions

Posting Komentar

0 Komentar